Alfatoxin dalam bumbu pecel, penyebab kanker hati
Anda mungkin penggemar pecel. Penelitian ilmiah membuktikan, bumbu pecel mengandung alfatoxin, penyebab kanker hati. Kandungan bahan beracun itu cukup tinggi, melampaui nilai ambang batas yang diperbolehkan Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut Dr. H. Achmad Hassan, pakar ilmu penyakit hati RSUD Dr. Soetomo (RSDS)/FK Unair, alfatoxin dihasilkan jamur aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus yang sering tumbuh pada kacang tanah dan produknya (koya, ting-ting gepuk, bumbu san sambel pecel). Juga bahan yang mengandung karbohidrat seperti gaplek, kentang rusak, jagung dan beras yang disimpan lama.

Alfatoxin ertama-tama ditemukan dalam kacang tanah pada tahun 1960 di Inggris, setelah terjadi kematian pada 1.000.000 ayam kalkun dan binatang lainnya. Alfatoxin kemudian mendapatkan perhatian utama karena sangat kuat daya racunnya serta mempunyai daya hepatokarsinogen, yaitu dapat menimbulkan kanker hati.
Menurut Hassan, jamur yang memproduksi alfatoxin membutuhkan suhu diatas 20 derajat celcius, dan kelembaban udara 90 persen. Keadaan ini katanya, terutama ditemukan di daerah tropis. “Untuk menghindari pertumbuhan jamur pada bahan makanan harus berada di bawah 80 persen,” kata Hasan. Hal ini dapat dicapai dengan mengusahakan penyimpanan serta proses pengeringan yang baik dari bahan makanan tersebut, agar kelembaban berada di bawah nilai ambang. Alfatoxin yang telah mencemari bahan makanan, tak hilang dengan pemanasan atau pemasakan.
Kandungan Alfatoxin yang tinggi pada bahan-bahan makanan tertentu telah menyebar luas dikalangan medik. Dr. Adji Wijaya misalnya, pakar ilmu penyakit paru RSDS Surabaya yang gemar makan pecel, kini tak lagi membeli bumbu pecel yang sudah jadi, tapi membuatnya sendiri dari kacang yang masih baru. “Kacang yang berkelupas sedikit saja, menjadi tempat pertumbuhan jamur yang menimbulkan Alfatoxin “, katanya.
Batas maksimum yang diijinkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk Alfatoxin, adalah 30 ppb (part per billion). Namun, bumbu dan sambel pecel, ternyata mengandung sekitar 600 ppb Alfatoxin. Bahan beracun ini ternyata banyak jenisnya, tapi yang paling berbahaya adalah jenis B1.
Teratas di Asia.
Kanker hati saat ini mula merajalela di dunia . Menurut Hasan, penyakit ini menduduki rangking teratas dari penyakit kanker yang ada di Asia. Setiap tahun ia membunuh 300.000 orang. Keganasan ini ditemukan lima kali lebih besar pada laki-laki disbanding wanita, dan biasanya timbul pada umur 50 tahun.
Kanker hati merupakan penyakit yang diketahui, karena sering menyebabkan kematian penderita. Mesti penyebabnya belum diketahui dengan pasti, namun penyelidikan epidemiologis menunjukkan, virus hepatitis B dan Alfatoxin memainkan peranan yang penting.
Menurut Hasan, penelitian yang dilakukan di Taiwan menunjukkan, penderita virus Hepatitis B berpeluang mendapat kanker hati 200 kali lebih besar disbanding dengan orang yang sehat. “80 persen kanker hati disebabkan oleh virus Hepatitis B,” kata Hasan.
Virus Hepatitis B yang memasuki tubuh menyebabkan : -Sebagian penderita mendapat kekebalan alamiah.-Virus akan menetap dalam tubuh, namun penderita merasa sehat. –Penderita menjadi sakit.
66 persen dari penderita yang sakit, tak mempunyai gejala mata kuning sehingga tak ke dokter. Sisanya, berobat berobat ke dokter. Tapi 10 persen diantaranya tak sembuh dengan pengobatan dokter.
66 persen penderita yang tak bergejala tersebut ditambah 10 persen yang bergejala mata kuning yang tak sembuh, berpeluang menderita sirosis hepatitis (hati berkerut) yang dapat berkembang menjadi kanker hati. Kini 300 juta penduduk dunia mengidap hepatitis B, diantaranya, sekitar 12 juta berdiam di Indonesia.
Proses penularan virus hepatitis B selain melalui alat suntik, juga dapat melalui udara, benda yang berkombinasi dengan virus tersebut, bahkan dapat ditularkan melalui hubungan seksual.
Sumber penularan lain melalui tetesan darah dan komponen darah, sentuhan cairan tubuh seperti air mata, air liur, air susu ibu, air kencing, ataupun tinja. Diduga, penularan dalam anggota keluarga menjadi amat tinggi, terutama antara suami istri dan anaknya.
Dengan adanya vaksin terhadap virus hepatitis B, selain bermanfaat untuk menekan inveksi virus ini, dapat mengurangi angka kejadian kaganasan hati.
Tak dapat diobati.
Sejak lama, kanker hati telah didiagnosis pada seseorang, namun sampai saat ini belum ada satu upaya pun yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan orang tersebut. Keadaan ini merupakan penderitaan baik bagi pasien maupun bagi anggota keluarganya.
Jika kanker hati telah terlanjur tumbuh, sukar dibendung, kecuali masih dalam tahap dini. Tapi kanker hati pada tahap dini sukar dideteksi karena tak memberi keluhan yang berarti.
Pada tahap lanjut, kanker hati memberi gejala : badan melemah, gangguan saluran cerna, sesak nafas, mata dan kulit menguning, pembesaran payudara, pada pria, hati membesar dank eras, perut buncit dan kelenjar getah bening membesar.
Sumber : Harian Buana Minggu, Minggu Ketiga, Minggu Wage, 19 Agustus 1990


