Custom Search

Sel Darah Merah Sebagai Pusat Magnet

Membedah pengobatan dengan latihan pernafasan

Ini fakta. Bukan ilmu santet, sulap, sihir (magic) atau hipnotis. Banyak penyakit, dari ringan sampai berat, bisa diobati hanya dengan latihan pernafasan, tenaga dalam atau metode sentuhan!

Jangan salah, metode yang acapkali membuat orang tak percaya dan sulit mencerna dengan nalar, itu ternyata bisa dibuktikan secara ilmiah melalui hukum fisika, ngak percaya?

Prof. Lilik Hendrajaya Deputi Perkembangan Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Kantor Kementerian Riset dan Teknologi menjelaskan ketika seseorang menahan nafas dlam selang beberapa waktu akan terjadi gejala terdorong, tertarik, terputar. “Juga merasakan panas, bergetar, pusing dan kadang mengantuk,” paparnya.

Reaksi demikian, tentu timbul bukan karena ilmu hipnotis. tetapi menurut hipotesa Lilik, akibat munculnya medan magnet dan elektromagnet pada saat dilakukan latihan pernafasan.

Lantas bagian mana dari tubuh kita yang dapat menghasilkan medan magnet secara signifikan? Hasil kajian ilmu fisika ternyata menunjuk ke darah, tertuma hemoglobin. Sel darah merah merupakan rantai protein panjang mengandung atom besi (Fe). Inilah yang mempunyai sifat magnetik elementer (mengandung kutub utara dan kutub selatan).

Pada saat pernafasan berlangsung, kata mantan Rektor ITB, hal yang tidak boleh dilupakan adalah konsentrasi atau kekuatan kehendak (power of mind). Kekuatan kehendak ini yang membantu penyembuhan penyakit melalui sifatnya yang mampu mengembalikan fungsi metabolisme tubuh dengan baik, melindungi diri dari berbagai gangguan dan melakukan pancaran informasi dalam telepati atau terapi. “Sepintas memang seperti ilmu hipnotis, ilmu sihir atau sulap. Tetapi menurut hukum alam, itu bisa dibuktikan secara nalar,” lanjutnya.

LEBIH BANYAK

Ilmu pengobatan tradisional yang demikian, diakui Kepala Balitbangkes Depkes Dr.Sumaryati Arsojo, SKM bakal dikembangkan Depkes dimasa mendatang. Alasannya, sebagai ilmu pengobatan alternatif, banyak orang yang masih memandangnya secara skeptis. “Padahal fakta dilapangan, banyak orang yang diam-diam mengaksesnya,” kata Sumaryati di sela lokakarya tentang penelitian dan pengembangan kesehatan.

Undang-undang No.3 tahun 1992 tentang kesehatan, menurut Sumaryati, telah memberi pengakuan secara jelas terhadap praktik pengobatan tradisional. Hanya sosialisasi di lapangan masih jauh timpang dibanding dengan ilmu kedokteran modern.

Beberapa metode pengobatan tradisional yang telah dikenal masyarakat sejak jaman babat tanah Jawa antara lain dengan ketrampilan, ramuan, pendekatan agam dan supranatural yang jumlahnya mencapai 30 jenis. Antara lain akupuntur, homeopati, qikong, refleksi, sinshe dan ramuan tradisional. Metode pengobatan tersebut telah dilakukan sedikitnya oleh 283 ribu pengobat yang tersebar di hampir semua wilayah Nusantara. “Anda bandingkan dengan pengobatan modern yang hanya dilakukan sekitar 83 ribu dokter,” lanjutnya.

Jika melihat angka tersebut bisa dipastikan masyarakat yang mengakses pengobatan tradisional jauh lebih besar dibanding mereka yang mengakses pengobatan modern. Fakta tersebut tentu harus segera disikapi dengan bijak. Memperjelas posisi pengobatan tradisional pada sistem layanan kesehatan nasional memang sudah menjadi kebutuhan.

Jika tidak, selamanya orang hanya akan berhubungan dengan pengobatan tradisional secara diam-diam. Pengobat, yang tahu situasi, pun membuka praktiknya diam-diam. Kalau demikian adanya, keluhan terhadap kesalahan penanganan bakal sulit.

Sumber : Pos Kota, 12-7-2003

Leave a Comment