Custom Search

Antibiotik, Bukan Obat Ajaib

Antibiotik sering dianggap sebagai obat ajaib karena kemampuannya menyembuhkan penyakit dengan cepat. Ada bahaya yang harus diwaspadai.

Antibiotik mempunyai dosis tertentu untuk menyembuhkan penyakit yang harus disesuaikan dengan kondisi tubuh seseorang. Jika terlalu keras, dapat menimbulkan alergi. Sehingga penggunaan antibiotik harus memperhatikan aturan.

Apa yang disebut dengan antibiotik?

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), antibiotik merupakan suatu zat yang dihasilkanoleh mikroba untuk menghambat pertumbuhan dan membasmi mikroba jenis lain. Awalnya, antibiotik hanya ada beberapa, namun saat ini sudah ditemukan berbagai jenis antibiotik yang mampu mengatasi penyakit infeksi. lanjutkan..

Antibiotik bekerja untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri, bukan virus. Penggunaan antibiotik tidak boleh sembarangan karena akan mendatangkan bahaya bagi tubuh. Prinsip yang harus diketahui, antibiotik hanya digunakan jika ada infeksi yang disebabkan oleh kuman bakteri.

Prinsip Antibiotik

Seorang daokter tidak boleh sembarangan merekomendasikan antibiotik, tapi harus melihat benar infeksi pada tubuh pasien. Prinsip pengobatan antibiotik memiliki dua pertimbangan utama, yaitu penyebab infeksi dan faktor pasien. Pertimbangan penyebab infeksi, dilihat pada pemberian antibiotik yang paling ideal adalah melakukan pemeriksaan mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Jadi dokter harus memilih antibiotik berdasar jenis dan kepekaan kuman.

Namun dalam prakteknya, dokter tidak mungkin melakukan pemeriksaan mikrobiologis pada setiap pasien. Berbeda halnya untuk pasien yang sakit berat dan membutuhkan penanganan segera, pemberian antibiotik perlu dilakukan dengan sebelumnya memeriksa kepekaan kuman.

Pertimbangan kedua, dilihat faktor pasiendengan memperhatikan fungsi ginjal, hati, riwayat alergi pasien, daya tahan terhadap infeksi, daya tahan obat, beratnya infeksi, usia, serta memperhatikan kondisi wanita yang sedang hamil atau menyusui. Mengetahui kondisi pasien dengan benar dapat mempermudah pemberian antibiotik sehingga penyakit cepat sembuh. Selain itu, pasien juga harus memberi informasi yang benar pada dokter tentang kepekaan tubuhnya terhadap antibiotik.

Sesuai dengan kondisi pasien, antibiotik yang diberikan bedasarkan klasifikasi antibiotik yang lazim digunakan adalah penisilin, sefaloszporin dan antibiotik betalaktamlain, tetrasiklin, aminoglikosida, makrolid, kuinolon, sulfonamid dan trimetoprim. Masing-masing antibiotik ini melawan infeksi sesuai dengan kuman penyebabnya.

Untuk mengetahui cara kerja antibiotik, terlebih dulu perlu mengetahui bahwa ada dua jenis kuman yang menyebabkan penyakit, yaitu bakteri dan virus. Bakteri menyebabkan penyakit dengan menyerang manusia sehat berkembang biak dalam proses perkembangan tubuh. Antibiotik efektif melawan bakteri karena dia bekerja untuk menghentikan perkembangbiakannya. Berbeda dengan virus yang tidak hidup dan tidak mampu berkembang biak, tidak bisa diatasi dengan antibiotik.

Menurut badan POM, mekanisme kerja antibiotik tergantung jenis antibiotiknya. Contohnya, penisilin dan sefalosporin menghambat pembentukan dinding sel bakteri. Polimiksin bekerja secara langsung pada membran mikroorganisme sehingga mempengaruhi dan menyebabkan kebocoran isi sel mikroorganisme. Selain itu mampu menghambat protein sel, yang dapat dilakukan kloramfenikol dan tetrasiklin. Sedangkan golongan aminoglikosida mempengaruhi protein sel sehingga meyebabkan matinya sel. Golongan kuinolon mempengaruhi metabolisme asam nukleat.

Resistensi Kuman

Agar pengunaan antibiotik memberikan hasil yang maksimal dan tidak terjadi resistensi kuman, antibiotik yang digunakan harus sesuai dengan anjuran WHO. Yaitu antibiotik harus diberikan berdasarkan diagnosis dan dosis yang tepat. Selain itu, interval pemberian antibiotik harus optimum, artinya antibiotik diberikan dalam jangka waktu yang tepat. Ditambah lagi dengan cara pemberian antibiotik harus yang terbaik.

Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi kuman sehingga infeksi yang terjadi pada penderita tidak dapat diatasi oleh antibiotik. Pemakaian yang tidak tepat biasanya disebabkan karena antibiotik bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakai, dan antibiotik tidak dipakai sampai tuntas. Resistensi karena penngunaan antibiotik yang tidak memadai, tidak rasional atau berlebihan terjadi akibat mutasi kuman sehingga terjadi kekebalan kuman terhadap antibiotik. Akibatnya, obat tidak banyak manfaatnya lagi untuk membasmi kuman.

Kuman-kuman yang resisten sulit diobati dengan antibiotik biasa. Malah bisa mengakibatkan infeksi perut, infeksi saluran kemih, juga infeksi luka operasi. Untuk menghindari resistensi kuman, pengunaan antibiotik perlu mendapat perhatian serius. Saat mengkonsumsi antibiotik, ada hal yang harus diperhatikan selama minum obat tergantung pada jenis antibiotiknya. Contohnya, pada penggunaan bersamaan dengan makanan, ampisilin harus diminum 30 menit sebelum makan, karena penggunaan obat bersamaan dengan makanan akan berpengaruh pada penyerapan obat.

Contih lain, untuk antibiotik golongan kuinolon secara umum tidak boleh diberikan pada anak di bawah usia 18 tahun karena hasil penelitian menggunakan hewan percobaan terlihat adanya gangguan pada sendi penunjang berat badan. Selain itu, golongan kuinolon tidak boleh digunakan wanita hamil karena hasil penelitian menggunakan hewan percobaan juga terlihat adanya ganguan pada sendi penunjang berat badan. Golongan aminoglikosida juga tidak boleh dikonsumsi wanita hamil karena dapat menyebabkan kerusakan saraf tertentu.

Efek samping

Antibiotik tidak boleh terlalu sering digunakan. Karena dapat mengganggu keseimbangan bakteri di dalam tubuh. Bakteri ada yang baik sifatnya, yang ada di dalam usus untuk membantu proses pencernaan. Jika kuman baik ini juga dibasmi, maka tubuh justru mudah terserang penyakit lain seperti penyakit jamur. Apalagi jika terjadi resistensi kuman, yang membuat kuman jahat bisa beradaptasi dengan antibiotik, sehingga tidak ada yang bisa melawan kuman ini.

Antibiotik dapat menyebabkan reaksi alergi atau hipersensitif. Syok setelah penyuntikan antibiotik juga mungkin terjadi, karena tidak tahan terhadap antibiotik. Reaksi ini bisa menyebabkan timbulnya gatal-gatal, mual, bahkan pingsan.

Adanya istilah antibiotik keras di masyarakat sebenarnya merupakan antibiotik cadangan jika antibiotik lain sudah tidak memberi respon yang memadai. Biasanya, semakin ampuh antibiotik, semakin keras pula efek sampingnya. Kebiasaan selalu bergantung pada antibiotik baik ringan maupun keras ini yang harus diperhatikan, karena resistensi kuman harus dijaga serendah mungkin.

Jadi, sebaiknya jangan terlalu mudah menggunakan antibiotik jika penyakit yang diderita ringan-ringan saja. Gunakanlah pada saat yang tepat, yaitu ketika infeksi terjadi dan tubuh sedang lemah. Peran antibiotik bermanfaat karena mengirim zat anti dari luar. Antibiotik harus digunakan berdasar pola kuman dan pola resistensi.

Kini pemerintah terus meningkatkan akses obat generik termasuk antibiotik. Untuk menjamin khasiat, keamanan, dan mutu obat, Badan POM selalu melakukan kegiatan penilaian obat sebelum beredar di masyarakat.

Sumber: Majalah Sehat, Desember 2003

1 Comment »

  1. Kelly Brown said,

    June 13, 2009 @ 2:27 am

    Hi, very nice post. I have been wonder’n bout this issue,so thanks for posting

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Leave a Comment